Siapa bilang hidup itu adil, hidup itu adil hanya untuk golongan yang bisa membeli keadilan. Buat rakyat jelata, kata adil dan keadilan itu hanya wacana di awang awang.
Sejak kecil kita ditanamkan berbagai nilai kehidupan oleh orangtua kita, entah kenapa ternyata kehidupan itu tidak pernah sesuai dengan nilai nilai yang kita pelajari sepanjang masa kecil kita.
Sakit rasanya, pada saat realita menghampiri dan merusak semua bayangan utopia yang ditanamkan di otak dan hati kita selama bertahun tahun dan hanya menyisakan ampas pahitnya kehidupan dan getirnya kenyataan.
Di saat saat terendah realita kehidupan menyentuh kita, berbagai pertanyaan muncul, apa, kenapa, mengapa, bagaimana bisa, dan akhirnya hanya satu kesimpulan yang bisa diambil bahwa memang kata adil itu hanya merupakan rangkaian dari kebohongan demi kebohongan dalam kehidupan. Seindah apapun kebohongan itu diciptakan hanya akan memunculkan kepahitan dan kegetiran dalam hidup yang tidak pernah adil.
Sabtu, 02 Juli 2011
Rabu, 25 Mei 2011
Roller Coaster Emosi
Pernah naik roller coaster? Ingat bagaimana rasanya kita melalui rel dengan ketajaman yang menakutkan dan mengaduk isi perut? Ingat bagaimana rasanya naik turun yang begitu drastis di atas relnya?
Terkadang hubungan melalui jalur seperti roller coaster, naik turun dengan cepat dengan kecepatan perubahan emosi yang begitu naik turun. Begitu banyak faktor mempengaruhi perubahan emosi, kata yang salah diinterpretasikan bisa jadi sumber naik turun emosi yang tidak terkendali. Perbedaan usia, latar belakang, budaya, kebiasaan, cara pikir, cara berbicara, menjadibiang berbagai masalah emosi.
Mampukah kita mengatasinya? Kembali pada diri kita sendiri, apakah kita akan berusaha untuk mengenali pokok permasalahannya dan mengatasinya atau kita akan membiarkannya berlalu dan mengulangi perjalanan di rel yang sama setiap kali kita membentur semua perbedaan yang muncul
Terkadang hubungan melalui jalur seperti roller coaster, naik turun dengan cepat dengan kecepatan perubahan emosi yang begitu naik turun. Begitu banyak faktor mempengaruhi perubahan emosi, kata yang salah diinterpretasikan bisa jadi sumber naik turun emosi yang tidak terkendali. Perbedaan usia, latar belakang, budaya, kebiasaan, cara pikir, cara berbicara, menjadibiang berbagai masalah emosi.
Mampukah kita mengatasinya? Kembali pada diri kita sendiri, apakah kita akan berusaha untuk mengenali pokok permasalahannya dan mengatasinya atau kita akan membiarkannya berlalu dan mengulangi perjalanan di rel yang sama setiap kali kita membentur semua perbedaan yang muncul
Sabtu, 21 Mei 2011
Emosi
Seorang senior yang sangat saya hormati, suatu hari berkata;
"JANGAN MENGAMBIL KEPUTUSAN DI SAAT KITA SEDANG EMOSI"
Dalam tahun tahun yang berlalu ada banyak sekali keputusan yang di buat di saat emosi sehingga kalau dipikir pikir, sebenarnya kita sendiri yang di rugikan dengan keputusan keputusan itu, bahkan ada kalanya kita jadi membuang buang energi positif untuk keputusan yang diambil saat emosi.
Beranjak dari peninjauan ke belakang itu, saya mulai mengevaluasi semua keputusan penting dalam hidup saya dan mencoba menginventarisir untung rugi dari semua keputusan yang pernah saya buat, dan hasil nya ternyata cukup mengagetkan, semua keputusan yang dibuat dengan kepala dan hati yang dingin memberi hasil yang bagus, sementara semua keputusan yang diambil saat emosi jungkir balik, berakhir dengan kepahitan.
Sekarang, kalimat ini selalu saya ingat di saat saya merasa marah dan sedih, dimana emosi saya sedang tercampur aduk, dan logika tidak bisa di ajak kerjasama.
"JANGAN MENGAMBIL KEPUTUSAN DI SAAT KITA SEDANG EMOSI"
Dalam tahun tahun yang berlalu ada banyak sekali keputusan yang di buat di saat emosi sehingga kalau dipikir pikir, sebenarnya kita sendiri yang di rugikan dengan keputusan keputusan itu, bahkan ada kalanya kita jadi membuang buang energi positif untuk keputusan yang diambil saat emosi.
Beranjak dari peninjauan ke belakang itu, saya mulai mengevaluasi semua keputusan penting dalam hidup saya dan mencoba menginventarisir untung rugi dari semua keputusan yang pernah saya buat, dan hasil nya ternyata cukup mengagetkan, semua keputusan yang dibuat dengan kepala dan hati yang dingin memberi hasil yang bagus, sementara semua keputusan yang diambil saat emosi jungkir balik, berakhir dengan kepahitan.
Sekarang, kalimat ini selalu saya ingat di saat saya merasa marah dan sedih, dimana emosi saya sedang tercampur aduk, dan logika tidak bisa di ajak kerjasama.
Kamis, 05 Mei 2011
Perubahan besar di angka 40
Di angka 40, umumnya orang sudah memasuki tahap kemapanan, dalam hidup perkawinan, dalam karier, dan dalam kehidupan sosial. Keputusan untuk mengakhiri semuanya dan memulai lagi dari awal, kelihatan nya memang aneh bagi banyak orang. Beberapa orang bertanya kenapa keputusannya sedrastis itu, beberapa lagi bertanya kenapa begitu terlambat mengambil keputusan.
Sebenarnya keputusan itu sudah diambil bertahun tahun sebelumnya, tetapi banyak pertimbangan yang membuat keputusan itu tidak terlaksana, dan yang terutama adalah pertimbangan masalah orangtua dan keluarga. Tapi ada satu titik dimana pertimbangan apapun akhirnya tetap tidak bisa mentolerir perbedaan yang ada sehingga akhirnya keputusan ini diambil.
Pada akhirnya, saya tidak menyesali semua keputusan yang diambil, maupun kenapa keputusan itu diambil diangka 40, dan saya belajar bahwa terkadang perbedaan visi, cara pikir dan cara hidup tidak selalu dapat dipersatukan. Perjuangan selama 11 tahun untuk mempertemukan 2 kehidupan dengan segala upaya toleransi dan penyesuaian tidak akan berhasil bila tidak datang dari kedua belh pihak, dan ketidakseimbangan juga akan menjadi motor ketidaksesuaian yang sulit dijembatani.
Sebenarnya keputusan itu sudah diambil bertahun tahun sebelumnya, tetapi banyak pertimbangan yang membuat keputusan itu tidak terlaksana, dan yang terutama adalah pertimbangan masalah orangtua dan keluarga. Tapi ada satu titik dimana pertimbangan apapun akhirnya tetap tidak bisa mentolerir perbedaan yang ada sehingga akhirnya keputusan ini diambil.
Pada akhirnya, saya tidak menyesali semua keputusan yang diambil, maupun kenapa keputusan itu diambil diangka 40, dan saya belajar bahwa terkadang perbedaan visi, cara pikir dan cara hidup tidak selalu dapat dipersatukan. Perjuangan selama 11 tahun untuk mempertemukan 2 kehidupan dengan segala upaya toleransi dan penyesuaian tidak akan berhasil bila tidak datang dari kedua belh pihak, dan ketidakseimbangan juga akan menjadi motor ketidaksesuaian yang sulit dijembatani.
Langganan:
Postingan (Atom)